Kisah Julaibib Orang Miskin yang Selalu Dikucilkan Masyarakat, Tapi di Cintai Oleh Rasulullah

 


 

بِسْــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِـــــيْـــــمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

ﺍَﻟﻠﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ

Penilaian Allah terhadap manusia bukan disebabkan karena harta kekayaan, kedudukan, atau ketampanannya, tetapi berdasarkan ketakwaannya. Hal Itulah yang terjadi pada salah satu sahabat Nabi Muhammad yang diabaikan orang, tetapi dicintai oleh Nabi Muhammad dan dirindukan oleh para bidadari surga.

Sahabat itu bernama Julaibib رضي الله عنه . Nama itu tampak asing, tidak terlalu indah, dan justru terfokus pada ciri fisiknya yang kerdil. Nama yang disandangnya tentu bukan pemberian dari dirinya maupun pemberian dari orang tuanya. Julaibib adalah sahabat Nabi yang tidak tahu pasti siapa ayah dan ibunya. Bagi penduduk Madinah, seseorang yang tidak memiliki garis keturunan dan tidak memiliki suku adalah aib besar yang memalukan.

Itulah alasan mengapa Julaibib begitu dikucilkan oleh masyarakat sekitar sehingga ia merasa tidak layak hidup di dunia sama sekali. Selain itu, keseharian Julaibib yang serampangan, lusuh, dan kotor membuat orang-orang di sekitarnya enggan untuk mendekatinya. Julaibib hanya tidur di atas pasir dan kerikil serta dengan bantal tangan setiap malam. Bahkan untuk minum saja, Julaibib hanya menggunakan kedua tangannya untuk mengambil air dari kolam umum milik warga setempat.

Pemimpin Bani Aslam, bernama Abu Barzah, pernah berkata tentang Julaibib kepada kaumnya: “Jangan pernah biarkan Julaibib masuk diantara kalian! Demi Allah jika dia berani melakukannya, aku akan melakukan hal-hal yang mengerikan padanya!” Meski demikian, karunia Allah Ta’ala tidak akan pernah salah alamat diberikan. Julaibib pun mendapat hidayah dari Allah dan bertekad menjadi yang terdepan dalam sholat dan jihad (berperang).

Suatu hari, Julaibib yang tinggal di shuffah masjid Nabawi ditanya oleh Rasulullah: “Julaibib, apakah kamu belum menikah?” “Siapakah orang yang ingin menikahkan putrinya denganku wahai Rasulullah?” kata Julaibib sambil tersenyum. Keesokan harinya, Julaibib kembali ditanya oleh Rasulullah dengan pertanyaan yang sama. “Julaibib, apakah kamu belum menikah?” Julaibib pun menjawab dengan jawaban yang sama selama tiga hari berturut-turut.

Singkat cerita, pada hari ketiga, Rasulullah memegang lengan tangan kanan Julaibib dan membawanya ke salah satu rumah para pemimpin Ansar. “Aku ingin menikahi putrimu,” kata Nabi kepada pemilik rumah. Betapa terkejutnya pemilik rumah itu mengetahui bahwa yang datang adalah Nabi Muhammad . Dia kemudian mengira bahwa putrinya akan menjadi istri Nabi sehingga pemilik rumah merasa terhormat. Tak lama kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa yang akan menikahi bukanlah dirinya sendiri melainkan Julaibib.

Sontak, pemimpin Ansar kaget dan tidak setuju putrinya menikah dengan Julaibib yang lusuh. Namun, putri pemimpin Anshar memiliki pandangan berbeda. Ketika dia tahu bahwa Rasulullah yang meminta, dia tidak berani menolak. “Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku kepadanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah yang meminta, maka tidak ada yang akan mendatangkan kehancuran dan kerugian bagiku,” kata gadis itu.

Gadis yang salilah itu kemudian membacakan sebuah ayat dari Al-Qur’an yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, bahwa mereka mempunyai pilihan lain dalam urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat, kesesatan yang nyata” (QS. Al-Ahzab ayat 36).

Mendengar jawaban dari gadis bijaksana itu, Rasulullah kemudian berdoa, Ya Allah, berikanlah kebaikan padanya, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Jangan Engkau jadikan hidupnya sengsara dan susah.” Hingga akhirnya gadis itu dan Julaibib ditakdirkan untuk hidup bersama tetapi untuk waktu yang singkat. Sebab, Julaibib harus segera menghadap Sang Pencipta setelah dirinya gugur di medan perang.

Ketika Julaibib gugur di medan perang, Rasulullah sangat kehilangan ia, tetapi tidak dengan para sahabat lainnya yang tidak terlalu menganggap Julaibib. Rasulullah kemudian memerintahkan para sahabat untuk mencari Julaibib. Akhirnya ia ditemukan tak bernyawa penuh luka. Namun di sekelilingnya ada tujuh mayat musuh yang berhasil ia bunuh.

Rasulullah kemudian berdoa, Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku dan aku adalah bagian darinya, Dalam perjalanan hidup yang Julaibib pilih sebagai orang yang berdiri membela Rasulullah, akhirnya dia menjadi rebutan para bidadari surga karena syahid di jalan Allah. Wallahu A’lam Bishowab.

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي اِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمَ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ.

 

Berbagi

Dilihat : 0 View
LIVE STATS • SMP TERPADU DARUL DAKWAH
Keren banget! Kamu adalah pengunjung ke-
...
di portal inspirasi SMP TERPADU DARUL DAKWAH
"Terima kasih sudah mampir! Semoga hari kamu penuh energi positif. Jangan lupa balik lagi buat update berita!"

💬 Kolom Komentar

💬 Komentar | Tanya

Memuat komentar...