Kisah Iman, Ujian, dan Hadiah Terbesar


Isra dan Mi’raj sering diceritakan sebagai perjalanan luar biasa Rasulullah ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Namun, peristiwa agung ini bukan sekadar kisah perjalanan yang menakjubkan. Ia adalah pelajaran mendalam tentang iman, keteguhan hati, ujian kepercayaan, dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Isra dan Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah ﷺ. Beliau baru saja kehilangan dua sosok paling berarti dalam hidupnya: Sayyidah Khadijah r.a., istri tercinta yang selalu menguatkan dakwahnya, dan Abu Thalib, paman yang melindunginya. Tahun itu dikenal sebagai ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan). Di tengah luka batin, penolakan, dan tekanan dakwah, Allah menghadirkan sebuah perjalanan istimewa sebagai penghiburan dan penguatan iman.

Secara logika manusia, perjalanan ini terasa mustahil. Dalam satu malam, Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan yang jika ditempuh secara biasa membutuhkan waktu sangat lama. Karena itulah, Isra dan Mi’raj juga menjadi ujian keimanan. Siapa yang benar-benar beriman akan membenarkan peristiwa ini, meski akal belum mampu sepenuhnya memahaminya. Di sinilah letak makna iman: percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan ketika hal itu melampaui nalar manusia.

Puncak dari peristiwa Isra dan Mi’raj bukanlah keajaiban perjalanannya semata, melainkan hadiah terbesar yang dibawa pulang untuk umat Islam: salat lima waktu. Salat bukan ibadah biasa. Ia adalah satu-satunya ibadah yang perintahnya disampaikan langsung oleh Allah tanpa perantara, di langit yang tinggi. Awalnya, salat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu, namun atas rahmat dan kasih sayang Allah, kewajiban itu diringankan menjadi lima waktu, dengan pahala tetap setara lima puluh.

Salat adalah bukti cinta Allah kepada hamba-Nya. Ia menjadi penghubung langsung antara manusia dan Rabb-nya. Di tengah kesibukan, lelah, dan hiruk-pikuk dunia, salat adalah momen berhenti, tunduk, dan kembali mengingat tujuan hidup. Ia menguatkan jiwa, menenangkan hati, dan menjaga iman agar tetap hidup.

Isra dan Mi’raj mengajarkan kita bahwa setelah kesulitan pasti ada pertolongan, setelah ujian ada penguatan, dan setelah ketaatan ada kemuliaan. Jika Rasulullah ﷺ yang paling dicintai Allah saja diuji dengan begitu berat, maka ujian hidup yang kita alami hari ini bukanlah tanda kebencian, melainkan cara Allah mendidik dan mendekatkan kita kepada-Nya.

Mari jadikan peringatan Isra dan Mi’raj bukan sekadar cerita tahunan, tetapi momentum untuk memperbaiki salat kita. Karena sejatinya, kualitas iman seorang Muslim tercermin dari bagaimana ia menjaga salatnya.

Isra dan Mi’raj mengingatkan kita: jalan menuju Allah mungkin berat, tetapi selalu ada cahaya bagi mereka yang beriman dan bersabar.

Tinggalkan Pesan...